Kultum Ramadhan : Arti Sabar Menurut Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D.
![]() |
| Pembawaan kultum Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D. setelah shalat dzuhur |
Gowa, Selasa (14/05/2019). Memasuki hari ke-9 puasa bulan ramadhan, Masjid Agung Kampus II UIN Alauddin Makassar membuat program rutin selama bulan ramadhan yaitu kuliah tujuh menit (Kultum) setelah shalat dzuhur berjamaah setiap harinya. Pada program ini, mengundang para pejabat-pejabat tinggi UIN Alauddin Makassar, seperti Rektor UIN beserta jajarannya serta para guru besar UIN untuk membawakan kultum kepada para jamaah shalat dzuhur secara bergiliran setiap harinya.
Adapun yang membawakan kultum pada hari ini ialah Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., beliau adalah seorang yang sangat inspiratif dan berbakat dibidangnya, salah satu karyanya yang sangat menginspiratif masyarakat ialah bukunya yang berjudul "Melawan Takdir" dan kemudian dibuatlah sebuah film dengan judul yang sama yaitu " Melawan Takdir" karya Quraisy Mathar yang dimana film tersebut diangkat berdasarkan tentang perjalanan hidup beliau dari kecil hingga dewasa, dari ketika beliau sangat sulit untuk bersekolah hingga beliau sukses dan mengambil 3 set lokasi syuting, yaitu tanah kelahiran beliau yaitu bone, negeri kanguru(Australia), dan kampus 1 UIN Alauddin Makassar yang berada di Jalan Sultan Alauddin Makassar.
Dalam kultumnya pada kali ini yang berjudul "Peran Puasa Membangun Etos" membahas bagaimana masyarakat jepang membangun etosnya dalam kehidupan sehari harinya yang diharapkan dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari hari kita terutama dalam menjalankan ibadah puasa. Selain membahas tentang etos, beliau juga membahas tentang sabar, beliau berpendapat " Cara kerja sabar diibaratkan kopi yang diberi gula, jika rasa kopi itu terlalu manis, maka yang disalahkan ialah gulanya, orang biasanya mengatakan gulanya terlalu banyak, dan ketika rasa kopi itu terlalu pahit, pasti gulanya lagi yang disalahkan, orang biasanya mengatakan gulanya terlalu sedikit, ketika rasa kopinya sudah pas, maka kopinya yang mendapatkan pujian, orang biasanya mengatakan kopinya mantap. Sabar itu tidak peduli baik buruknya, yang terpenting ialah rasanya" Ujarnya. Dalam kultum tersebut kita sebagai umat muslim dalam menjalankan puasa, harus lebih memperhatikan etos kita dan lebih meningkatkan kesabaran agar mampu menahan segala ucapan, nafsu, dan perilaku.
Selain materinya yang menarik, pembawaan materi dari beliau juga sangat baik, sehingga para jamaah menyimak dengan seksama apa yang disampaikan oleh beliau, dan materi yang dibawakan oleh beliau ialah berdasarkan pengalaman beliau sehingga memberikan kesan yang hidup pada materi yang dibawakan.

Komentar
Posting Komentar